Hatarakibachi, Workaholic ala Jepang

Mana yang lebih Anda sukai, pulang ke rumah setelah bekerja atau enggan pulang ke rumah dan lebih suka lembur di kantor?

Jika Anda menjawab lebih suka pulang ke rumah, maka itu sangatlah manusiawi, tetapi jika Anda merasa lebih suka bekerja terus (lembur) di kantor, maka Anda termasuk golongan Hatarakibachi (働き蜂) atau workaholic.

Kata hatarakibachi adalah gabungan kata yang berasal dari kata 働く(baca hataraku, artinya bekerja), adalah jenis kata kerja dalam bahasa Jepang, dan kata kedua adalah 蜂(baca : hachi, artinya lebah). Kata kerja dalam bahasa Jepang apabila diubah menjadi kata benda, maka ada banyak jenis model perubahan, salah satunya adalah mengubah bunyi huruf belakang menjadi bunyi “i”, sehingga kata “hataraku” berubah menjadi “hataraki”. Kemudian kata kedua, “hachi”, digabung dengan kata “hataraki”, huruf depannya berubah bunyi pula, menjadi “ba”, sehingga dibaca “bachi”. Saya belum mencari mengapa harus berubah bunyi, tetapi barangkali karena “hatarakibachi” lebih mudah diucapkan daripada “hatarakihachi”. Bagi peminat linguistik, tema ini barangkali bisa menjadi bahan penelitian.

Kembali pada fenomena hatarakibachi di Jepang. Kenapa mendadak persoalan ini muncul di kepala saya? Ceritanya karena saya nyaris atau bahkan sudah tergolong kelompok ini. Beberapa kali saya merasa bahwa waktu siang hari yang diberikan tidak cukup untuk menuntaskan pekerjaan, maka saya perlu bekerja di malam hari. Ketika berada di Jepang, saya selalu bekerja dari subuh (maksudnya berangkat kerja subuh-subuh, karena dimulai pukul 6 pagi), dan pulang kerja malam sekali (biasanya kereta terakhir). Kadang-kadang saya ketinggalan kereta terakhir (pukul 00.17), sehingga harus berjalan kaki pulang. Pulang sendirian malam-malam menyusuri jalan kampus yang sudah sepi sekali dan sampai di rumah dalam waktu 15-20 menit, bukan pekerjaan yang mengenakkan. Perasaan takut dan was-was dikuntit orang jahat, atau diganggu selama perjalanan selalu menghantui, sehingga langkah kaki menjadi lebih cepat dari biasanya.

Kebiasaan itu ternyata tidak berakhir di saat saya pulang ke Indonesia dan mulai aktif di UNDIP. Saya seperti tidak bisa mengerem kebiasaan bekerja hingga larut malam. Bahkan beberapa kali saya lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

Mengapa saya menjadi begini?

Alasan utamanya tadinya saya pikir karena saya tidak bisa memanage waktu dan load kerja yang berlebihan. Tetapi, setelah saya pikir dan renungkan lagi, ternyata saya menyadari bahwa saya ternyata tidak menyukai duduk diam dan tidak mengerjakan sesuatu. Intinya, saya lebih suka bekerja daripada bengong. Kata teman, saya hobby menciptakan pekerjaan. Seperti sekarang-sekarang ini, saat masa ujian akhir, sebenarnya tidak ada pekerjaan lain, selain melaksanakan ujian, memeriksa jawaban dan tugas mahasiswa, dan memasukkan nilai. Tetapi, nyatanya saya sudah berkelut dengan pembuatan dan pengeditan jurnal ilmiah yang nyata-nyata itu bukan milik jurusan saya. Kenapa saya mau melakukannya? Bukan karena dipaksa, tetapi saya “gregetan”, kok proses pembuatannya lama sekali. Setelah terlibat mengedit bahasa dan lay out semua artikel, saya sebenarnya ingin mengirimkan review, sebab beberapa tulisan sangat perlu diperbaiki. Tetapi saya menahan diri, karena ini bukan bidang keilmuan saya sejatinya. Hanya pada beberapa tulisan yang penulisnya saya kenal baik, artikelnya saya kembalikan dan mintakan perbaikan, setelah saya edit bahasa dan mempertanyakan kejanggalan isi tulisan. Beruntungnya dosen tersebut tidak merasa tersinggung, dan berkenan meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang revisi yang harus dilakukan. Jadi, intinya…saya kembali lembur, tetapi memutuskan untuk tidak lembur di kantor karena sekarang hujan terus-terusan mengguyur, dan khawatir listrik mati. Pekerjaan semuanya saya bawa pulang dan kerjakan di rumah.

Lalu, apakah saya sudah menyamai hataraki bachi orang Jepang? Tidak.

Majalah Nikkei, majalah bisnis yang tersohor di Jepang menuliskan sebuah artikel lama (September 2010) tentang fenomena hatarakibachi di Jepang. Judul artikelnya sangat menohok dan mengerutkan kening, bahasa Jepangnya ditulis seperti ini, “「家に帰るより会社にしたい」働き蜂ワーカホリック現在価値”. Sub title-nya lebih seram lagi, ”周りも自分自身も幸せにしない非生産的な人々”. Arti judul utama adalah “Daripada Pulang ke Rumah, lebih baik di Perusahaan’, Pandangan/Pemikiran Terkini Para Hatarakibachi Workaholic”. Sedangkan sub title-nya bermakna, ”Orang-orang tidak produktif yang merasa tidak bahagia dengan lingkungan dan dirinya sendiri”.

Artikel tersebut membahas perilaku pekerja Jepang yang cenderung menganggap rumah adalah tempat yang banyak mendatangkan masalah dan perusahaan adalah tempat yang membahagiakan. Mereka yang diwawancarai cenderung memilih perusahaan sebagai tempat tinggalnya. Mereka meminta kerja lembur (sekalipun tidak dibayar). Lalu, mengapa mereka demikian? Bekerja bagi mereka adalah hobi. Namun, pemerintah Jepang telah menggalakkan slogan-slogan, seperti 「ワークライフバランス」(baca: wa-ku raifu baransu) atau ‘keseimbangan antara kerja dan hidup’, juga 「ノー産業デー」(baca : noo sanggyou dei) artinya ‘hari tidak ada lembur’. Tetapi orang-orang yang hobi bekerja mempertanyakan mengapa pemerintah tidak bisa memahami sejatinya mereka yang memang suka bekerja? Saya kutipkan apa yang disampaikan oleh seorang interviewee yang dikutip oleh Nikkei berikut ini :

「なぜ、国や会社から帰宅命令を出されなくちゃいけないんですかね。会社で仕事をしている方が、楽だっていう人もいるってこと分かってほしいですね。僕は仕事が大好きです。だから仕事漬けになることがちっともイヤじゃありません。趣味もないし、仕事が趣味みたいなもんなんです。正直、ノー残業デーとか地獄。自由に働かせてほしいですよ。会社だって本当はその方が助かるはずです」

Yang artinya kira-kira begini,

“Kenapa sih negara dan perusahaan harus mengeluarkan peraturan untuk pulang ke rumah? Saya berharap mereka dapat memahami bahwa ada orang-orang yang senang bekerja di kantor. Saya paling suka bekerja. Oleh karena itu, kami tidak keberatan jika harus “terendam” dalam pekerjaan. Saya tidak punya hobi. Hobi saya adalah bekerja itu sendiri. Dengan jujur, (saya katakan), no sanggyou dei (hari tanpa lembur) itu adalah neraka. Saya ingin diberi kebebasan dalam bekerja. Saya kira, perusahaan sebenarnya lebih terbantu (dengan adanya lembur dan orang yang gemar bekerja)”.

Kalau pulang ke rumah, mereka merasa tidak produktif, seperti yang disampaikan seorang pekerja berusia 48 tahun, berikut ini :

「家のことにはできるだけかかわりたくない。本当は仕事だけをやっていたい」と願っていたり、独身であっても「家に帰っても寝るだけだから、会社で夜遅くまで働きたい」

“Tentang urusan di rumah, sedapat mungkin saya tidak ikut ambil bagian. Sebenarnya, saya berharap ingin hanya bekerja (dalam hidup ini). Sekalipun seseorang tidak/belum berkeluarga, kalau dia pulang ke rumah, dia cuma akan tidur. Karenanya, kami menginginkan bekerja sampai larut malam”

Kata workaholic pertama kali dipakai oleh dr. Wayne Oates, seorang psikolog agama dari Southern Baptist Theological Seminary. Dia menuliskannya dalam artikel 1968, “On Being a ‘Workaholic’ (A serious Jest)” in the journal Pastoral Psychology dalam kalimat, ”I have dubbed this addiction of myself and my fellow ministers ‘workaholism,’ “.

Jika definisi workaholic di barat cenderung dimaknai dengan pemaknaan negatif, yaitu “Kondisi yang tidak menginginkan tidak bekerja atau orang/kondisi yang menyatakan bahwa hidup adalah untuk bekerja”, maka bagi orang Jepang, workaholic dimaknai sebagai 「長時間労働を好むため残業時間が多く、職務満足度の高い人」artinya, ‘orang yang menyenangi bekerja dalam waktu yang lama, sehingga mengharapkan masa lembur lebih banyak, orang yang memiliki kepuasan tertinggi ketika bekerja’.

Menurut Nikkei, orang-orang yang seperti itu, ketika pulang ke rumah, dia tidak berhasil membangun komunikasi dengan istri dan anaknya (barangkali karena dalam benaknya hanya bekerja saja), dan oleh karenanya stress sangat dirasakannya ketika berada di rumah, bukan di kantor. Lalu kenapa orang Jepang sangat suka bekerja? Ini jawaban yang disampaikan seorang responden,

「仕事は論理的に考えれば、何とかまとまります。うまくいかないこともあるけど、解決策はある程度の効果が出るし、期待したような結果も見える。だから、やりがいもある」

“Pekerjaan kalau kita pikirkan secara teoritisnya, bisa kita simpulkan/katakan dalam sebuah pernyataan. Ketika bekerja, pasti ada hal-hal yang tidak bisa berjalan mulus, tetapi sekalipun demikian, trik pengatasan masalah tsb bagaimanapun akan muncul, dan hasil yang diharapkan dapat terlihat. Oleh karena itu, semangat untuk melakukannya juga ada”

「でも、家庭はそういうわけにはいかない。家庭は解決できないことばかりです。問題は山積。子どもは突然、学校に行かなくなるし、女房は文句しか言わないし。それに、会社もひどいですよ。つい最近まで、仕事一辺倒の働き方をさせてきたのに、今さら『家庭を大切に!』なんて言われたところで、失った10年はどうやったって戻ってこない」

“Tetapi keluarga, tidak demikian adanya. Di dalam keluarga, yang ada hanya masalah yang tidak bisa teratasi. Permasalahan menggunung. Anak-anak secara tiba-tiba tidak mau ke sekolah, istri mengomel saja. Kalau sudah begitu, di kantor pun akan sangat tertekan. Sampai saat ini saya sudah menjadi terobsesi dengan kerja, kalau sekarang dikatakan “Keluarga Harus dipentingkan”, tidak bisa kembali apa yang sudah saya kejakan 10 tahun yg lalu”.

Melihat jawaban tersebut, ada dua kemungkinan yang tengah dihadapi laki-laki yang diwawancarai tersebut, yaitu dia menjadi workaholic dan keluarganya menjadi kacau, atau karena keluarganya kacau, dia menjadi workaholic.

Saya masih agak jauh barangkali dari karakter hatarakibachi seperti pegawai di atas. Karena saya masih menganggap pulang ke rumah adalah wajib untuk beristirahat dan makan enak, sekaligus mengobrol panjang lebar dengan anggota keluarga lainnya. Saya masih juga rela terlibat dalam pemecahan masalah di dalam keluarga kami. Jadi, barangkali karena konsep keluarga menurut pandangan orang Jepang sangat berbeda dengan pandangan orang Indonesia kebanyakan, maka bekerja bagi orang Indonesia yang workaholic dianggap sebagai kewajiban, tetapi mereka masih terikat dengan norma agama dan keyakinan yang menekankan perlunya tanggung-jawab dan silaturahmi dengan sesama.

Hanya saja, ada kalanya pekerjaan saya cukup banyak, dan terpaksa menggunakan malam hari untuk bekerja dan sedikit beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s